Type something and hit enter

ads here
By On
advertise here

1.1 Pendahuluan

Artikel ini membahas bagaimana kuesioner dibangun dan digunakan untuk mendapatkan data dari responden-responden. Kuesioner merupakan teknik terbaik untuk mendapatkan data dari responden-responden yang banyak jumlahnya yang lokasinya tersebar secara geografik.

1.2 Mengembangkan Kuesioner

Mengembangkan kuesioner bukan hal yang mudah. Mengembangkan kuesioner membutuhkan pengetaahuan teori dan pengukuran yang mendalam. Membuat kuesioner juga membutuhkan waktu yang tidak singkat. Oleh karena itu disarankan jika kuesioner sejenis yang relevan sudah tersedia dari penelitian-penelitian sebelumnya. Peneliti dapat menggunakanya dengan disesuaikan untuk penelitian yang akan dilakukan. Jika kuesioner belum tersedia karena belum dikembangkan oleh peneliti sebalumnya, maka peneliti harus mengembankan sendiri kuesionernya. Mengembangkan kuesioner dapat terdiri dari lima tahap berturut-turut, yaitu sebagai berikut ini.
  1. Memahami latar belakang survey.
  2. Mengembangkan kerangka konseptual dan operasional kuesioner.
  3. Melakukan purwa-uji (pre-test).
  4. Menulis kuesioner.
  5. Mendesain Visual.
  6. Meminta Ulasan Pakar.


1.2.1 Memahami Latar Belakang Survei

Memahami latar belakang survei merupakan tahap awal dalam membangun kuesioner survei. Memahami latar belakang survei dimaksudkan untuk mendapatkan pemahaman awal mengapa survei dilakukan. Tahap ini dilakukan dengan memahami pertanyaan-pertanyaan penelitian, tujuan penelitian dan hipotesis-hipotesis yang akan diuji. Pertanyaan-pertanyaan penelitian, tujuan penelitian dan hipotesis-hipotesis ini sangat mempengaruhi desain kuesioner yang akan dibuat.

Sebagai contoh adalah penelitian Moore dan Benbasat (1991). Mereka mengembangkan instrumen surveinya sendiri. Mereka mengembangkan survei dimulai dengan tujuan penelitianya adalah untuk mengukur presepsi-presepsi pemakai dalam mengadopsi inovasi teknologi informasi. Contoh lainya adalah penelitian Davis (1989) adalah untuk menentukan kepercayaan-kepercayaan (beliefs) yang mempengaruhi pengguna untuk menerima teknologi.

Selain itu, pemahaman latar belakang survei juga akan mempengaruhi responden yang akan digunakan dalam penelitian. Hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan target responden adalah siapa responden yang akan dipilih, latar belakangnya, tingkat pendidikanya dan akses terhadap responden. Pemahaman responden akan menentukan metoda pemilihan sampel dari responden.


1.2.2 Mengembangkan Kerangka Konseptual dan Operasional Kuesioner

Memahami latar belakang survei dengan memahami pertanyaan-pertanyaan penelitian, tujuan penelitian dan hipotesis-hipotesis yang akan diuji masih merupakan pemahaman di level teoritis. Kerangka teoritis diperlukan juga untuk mendukung pembentukan survei. Kerangka teoritis di survei  dibentuk dari konsep-konsep yang akan digunakan di survei. Proses mengkonsepkan tujuan, pertanyaan-pertanyaan dan hipotesis-hipotesis penelitian ini dapat disebut dengan konseptualisasi.

Kerangka teoritis (konsep) perlu dioperasikan supaya dapat diukur dengan data dan diuji hasilnya. Proses mengoperasikan konsep menjadi indikatoro-indikator terukur disebut dengan operasionalisasi. Lebih lanjut menurut Hox (1997), konseptualisai merupakan pembentukan konsep dari definisi sub-domain, sedangkan operasionalisasi merupakan terjemahan dari konsep teoritis ke dalam variabel yang diamati dengan menentukan indikator empiris untuk konsepdan sub-domain.

Baik proses konseptualisasi dan operasionalisasi dilakukan dengan dukungan literatur-literatur yang ada. Untuk maksud ini kaji literatur (literature review) perlu dilakukan. Biasanya yang digunakan di kaji literatur adalah buku-buku dan hasil-hasil penelitian sejenis dan yang sudah dilakukan.

Dari literatur yang ada sebelumnya dapat diperoleh informasi mengenai teori-teori yang relevan dan konsep konstruk-konstruk untuk variabel-variabel yang didapatkan dapat digunakan untuk mengembangkan konsep-konsep yang akan digunakan di penelitian, sedang pertanyaan-pertanyaan survei yang sudah digunakan di penelitian-penelitian sebelumnya bermanfaat untuk mengoperasikan konsep-konsepnya.

Penggunaan literatur sebelumnya sebaiknya diutamakan pada isu survey yang serupa. Literatur yang ada dapat digunakan sebagai pembanding survei pada topik dan kondisi sebanding, yang telah dilakukan sebelumnya.  Pertanyaan yang dapat digunakan sebagai acuan untuk memilih literatur sebelumnya adalah sebagai berikut.

  • Apakah literatur memuat survei yang hampir sama atau sebanding dengan yang akan dikembangkan.
  • Apa jenis pengujian yang dilakukan dan bagaimana hasilnya.
  • Bagaimana rekomendasi pada desain yang disajikan.

Tahapan berikutnya setelahnya mendapatkan informasi dari kaji literatur adalah melakukan proses konseptualisasi dengan mengidentifikasikan konsep-konsep relevan yang diperoleh dari literatur. Sebagai contoh adalah penelitian Moore dan Benbasat (1991). Berdasarkan tujuan penelitian mereka dan dari hasil kaji literatur yang mendalam, mereka menemukan 7 konsep-konsep untuk mengukur persepsi-persepsi pemakai dalam mengadopsi inovasi teknologi informasi. Konsep-konsep ini adalah :
  1. Keuntungan Relatif (Relative Advantage).
  2. Kompailitas (Compability).
  3. Kemudahan Penggunaan (Ease of Use).
  4. Keteramatan (Observability).
  5. Triabilitas (Triability).
  6. Imej (Image).
  7. Kesukarelaan Penggunaan (Voluntariness of Use).
Konsep-konsep masih belum dapat diukur dengan jelas. Supaya konsep-konsep dapat diukur maka harus dapat dijabarkan dalam level operasional. Proses ini disebut dengan operasionalisasi. Proses operasionalisai dilakukan dengan menjabarkan konsep-konsep menjadi indikator-indikator. Indikator-indikator ini dapat berupa pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-pernyataan terukur dalam kuisioner.

Hox (1997) menyatakan ada dua prespektif untuk menjembatani antara teori (konsep) dan variabel diamati (operasionalisi atau pengukuran) yaitu pendekatan dipicu oleh teori (theori diven) dan pendekatan dipicu secara empiris (empirical driven).

1. Pendekatan operasional dipicu dari teori.
Pendekatan dipicu teori mendefinisikan konsep-konsep secara teoritis dengan memisahkan topik ke dalam sub-domain sebagai komponen atau dimensi terpisah (Fiske 1971). Sub-dimensi membentuk spesifikasi yang lebih rinci dari makna konstruk  teoritis.

2. Pendekatan operasional dipicu empiris.
Pendekatan dipicu empiris menggunakan data untuk mengembangkan konsep dan teori-teori atau melibatkan kelompok observasi. Jka menggunakan metoda penyampelan konten, maka pertanyaan-pertanyaan yang relevan untuk topik dikumpulkan dan diuji dengan analisis faktor. Pendekatan ini menuntut data yang relevan serta pengetahuan yang mendalam tentang topik yang tersedia. Ada resiko tertentu ketikamenyeleksi item yang relevan karena dipilih dengan menghilangkan item yang penting. Pada awal penelitian, pertanyaan potensial dipilih dengan analisis faktor eksploratori  (exploratory factor analysis) atau cara lain yang sejenis. Kemudian faktor-faktor ini dianalisis secara terpisah untuk menguji faktor-faktor tunggal manakah yang dapat digunakan.


1.2.3 Purwa-Uji (Pretest)

Purwa-uji (pre-test) merupakan uji sebelum (purwa) dilakukan uji terhadap responden sebenarnya. Akan sangat mahal jika kuesioner sudah dibagikan kepada yang besar tetapi ternyata kuesioner tersebut masih bermasalah, sehingga proses pengiriman kepada responden tersebut harus diulangi setelah kuesioner diperbaiki. Oleh karena itu, sebelum kuesioner dibagikan kepada responden sebenarnya, maka harus sudah diyakinkan bahwa kuesioner tersebut harus sudah valid dan reliabel.

Purwa-uji dimaksudkan untuk menguji kuesioner sebelum dibagikan kepada responden yang sebenarnya. Di tahap purwa-uji, dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas dari kuesioner untuk meyakinkan bahwa kuesioner sudah valid dan reliabel. Uji validitas yang dilakukan di tahap purwa-uji ini adalah uji validitas isi (confiden validity). Uji validitas ini digunakan untuk menguji sebetapa besar item-item di kuesioner mewakili konsep yang diukur. Untuk dapat menentukan apakah item-item pernyataan sudah sesuai dengan konsep teorinya, uji validitas ini biasanya dilakukan dengan meminta pendapat pakar.

Validitas ini merupakan validitas internal (internal validity). Validitas isi (content validity) menunjukan tingkat seberapa besar item-item di instrumrn mewakili konsep-konsep yang diukur. Validitas isi memuat tes yang mnguji isi yang relevan dengan tujuan yang akan diukur. Jika instrumen yang digunakansevara cukup mencakup topik yang sudah didefinisikan sebagai dimensi-dimensi dan elemen-elemen yang relevan menggambarkan konsepnya, maka dapat dikatakan bahwa instrumen tersebut mempuyai validitas isi yang baik (Hartono 2008).

Di penelitian Moore dn Benbasat (1991), pakar-pakar diminta untuk mengelompokan 94 item-item pertanyaan yang sudah diperoleh di kaji literatur ke dalam 7 kategori konstruknya. Validitas isi diuji dengan menghitung kesepakatan banyaknya item-item yang sama yang diletakan di masing-masing konstruk oleh masing-masing pakar. Uji reliabilitas diukur dengan tingkat kesepakatan (level of agreement) pasangan pakar dalam mengkategorikan item.


1.2.4 Menulis Item-Item Pertanyaan

Pertanyaan-pertanyaan di kuesioner merupakan sekumpulan kata-kata yang meminta reponden untuk memberikan informasinya. Pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner menentukan bagaimana responden akan menafsirkanya dan menjwabnya. Cara bertanya di item-item kuesioner akan berdampak pada perilaku responden menjawabnya dan selanjutnya akan berdampak pada kualitas data yang diperoleh.

Pertanyaan pada kuesioner harus memberikan kontribusi untuk meminimalkan kesalahan karena kualitas kuesionernya dan karena jawaban respondenya. Penulisan dan format pertanyaan yang baik menjadi penting untuk mencapai kuesioner yang berkualitas. Untuk meminimalkan kesalahan di kuesioner, harus diperthatikan jenis pertanyaan yang akan digunakan, format pertanyaan dan fraseya.

0 komentar